Naratif cinta pasti tidak akan lari daripada menghujahkan tentang takdir, jodoh, detiny atau fate. Lihat Serindipity lakonan John Cusack. Atau A Lot of Love lakonan Amanda Peet. Atau filem Hotel de Love arahan Craig Rosenberg. Atau filem It's All About Love arahan Thomas Vinterberg. Serta banyak lagi.
Percaya kepada takdir terletak di hujung rukun IMAN setiap umat Islam bermazhab Sunnah Waljamaah ajaran Imam as-Shafie.Tidak percaya kepada takdir akan menyebabkan seseorang itu menjadi murtad atau keluar dari agama Islam, menurut kata-kata ulama konvensional.
Tulisan aku ini bukannya mahu berhujah tentang hukuman yang patut dijatuhkan terhadap mereka yang tidak percaya kepada takdir. Mahupun untuk menyatakan tentang fadhilat yang mungkin diperolehi oleh mereka yang percaya akan takdir. Cuma ingin memetik persoalan atas perkara yang diterima ramai sebagai takdir, atau destino dalam bahasa Spanish atau ciel dalam bahasa Peranchis atau fortuna atau fato dalam bahasa Itali.
Bagi mereka yang percaya kepada takdir, silakan. Percayalah terus kepada kepercayanmu turun temurun. Bukan aku di sini untuk menggugah apa yang kau percaya sekian lama. Aku juga bukanlah untuk menghasut mana-mana pihak supaya tidak terus percaya kepada takdir atau jodoh.
Adakah takdir itu seperti 'helaian bulu ayam' yang mengikut sahaja arah angin ke mana hendak dipergi seperti apa yang ditampilkan di dalam filem Forrest Gump arahan Robert Zemeckis.
Atau adakah kita yang menentukan kehidupan kita. Seperti positivisma, "philosophical doctrine that denies any validity to speculation or metaphysics. Sometimes associated with empiricism, positivism maintains that metaphysical questions are unanswerable and that the only knowledge is scientific knowledge. The basic tenets of positivism are contained in an implicit form in the works of Francis Bacon, George Berkeley, and David Hume, but the term is specifically applied to the system of Auguste Comte, who developed the coherent doctrine. In addition to being a dominant theme of 19th-century philosophy, positivism has greatly influenced various trends of contemporary thought. Logical positivism is often considered a direct outgrowth of 19th-century positivism. 1
"See L. Koakowski, The Alienation of Reason (tr. 1968) and Positivist Philosophy (tr. 1972); C. Bryant, Positivism in Social Theory and Research (1985). " -- http://www.bartleby.com/65/po/positivi.html
Islam percaya akan hidup ditentukan oleh sesuatu yang lebih berkuasa daripada kita. Segala yang terjadi sekarang sudah tertulis di loh mahfuz [85:21-22 QS]. Dan rukun yang tercipta oleh ulama-ulama mutabar, yang mengsyaratkan 'percaya kepada qada dan qadar' sebagai salah satu elemen penting yang mengisi rukun iman setiap umat manusia.
Ada kesamaan di antara pendapat pemikir muktabar dunia Friedrich Nietzsche [yang pernah mengungkapkan bahawa 'tuhan sudah mati,' dengan Samuel Beckett penulis lakon pentas untuk teater terkenal Waiting for Godot, novel fiktif Dream of Fair to Middling Women, fragmen Stories and Texts for Nothing, serta banyak lagi karya-karyanya [yang mendapat sambutan dan yang tak mendapat sambutan]-- kedua-duanya sependapat bahawa kehidupan di dunia tiada asasnya. "Tuhan sudah mati" dan kita ibarat seorang 'penanti' yang 'terus menanti bagai menanti bulan jatuh ke riba'.
15 March 2006
14 March 2006
Teknologi dan muzik
Teknologi muat turun melalui internet juga sudah mula menampakkan kemajuan. Kita -- pengguna internet -- boleh melakukan proses muat turun walau apa jenis lagu pun. Kalau anda hendak lagu Mawi dipertandingan akhir Akademi Fantasia III pun ada. Janjinya, ada seseorang yang merakamkannya dan orang itu upload lagu yang didendangkan -- Aduh Saliha dan Seroja -- di internet.
Teknolgi ini disebalik kebaikannya pasti akan ada keburukan. Kebaikannya adalah para pendengar atau orang biasa bisa mendengar dengan melakukan pindah turun lagu apa sahaja kehendaknya (termasuklah lagu Sway nyanyian penyanyi asal Cliff Richard, lagu Sway yang diremix menjadi rentak Latin dan lagu pelbagai versi Usama bin Laden).
[lagi]07 March 2006
Kirimkan aku khabar gembira [lagi]
Hari tu dia hantar SMS. Bertanya khabar dan memberitahu perihal diri. Entah apa mimpinya menghantar SMS kepada aku, aku pun tak tahu. Mungkin hendak membalas SMS aku yang tak dibalasnya. Kalau masa tu dia takde kredit -- mungkin, kali ni aku pulak yang takde kredit -- pasti.
Terukir senyuman aku selepas membaca SMSnya. Fikirku, mahu sahaja dia menghantar SMS kepadaku lagi. Ingatkan dia dah tak ingat kat aku lagi. Hampir terkeluar kata-kata itu daripada mulut aku.
“It’s up to you if you given up, it’s up to you if it won’t stop,” kedengaran bait-bait lagu In My Life nyanyian kugiran The Rasmus memenuhi ruang-ruang kosong telinga yang seterusnya memproses sehingga ke otakku.
Betul. It’s up to you [you, me] if you given up. Betul. Semua terletak di tangan kau, di dalam genggaman tangan kau. Cuma aku tak pasti apakah balasan bagi ayat itu. It’s up to you if it won’t stop.
Sudah pasti aku menantikan khabar gembira darinya. Aku optimis dan berharap, semoga dia akan kirimkan aku dengan khabar gembira lagi.
Terukir senyuman aku selepas membaca SMSnya. Fikirku, mahu sahaja dia menghantar SMS kepadaku lagi. Ingatkan dia dah tak ingat kat aku lagi. Hampir terkeluar kata-kata itu daripada mulut aku.
“It’s up to you if you given up, it’s up to you if it won’t stop,” kedengaran bait-bait lagu In My Life nyanyian kugiran The Rasmus memenuhi ruang-ruang kosong telinga yang seterusnya memproses sehingga ke otakku.
Betul. It’s up to you [you, me] if you given up. Betul. Semua terletak di tangan kau, di dalam genggaman tangan kau. Cuma aku tak pasti apakah balasan bagi ayat itu. It’s up to you if it won’t stop.
Sudah pasti aku menantikan khabar gembira darinya. Aku optimis dan berharap, semoga dia akan kirimkan aku dengan khabar gembira lagi.
18 February 2006
Islam, Simbol, dan Valentine's Day
daripada koran tempo
Adalah seorang Valentine, pastor di zaman Kaisar Claudius II di Roma, abad III. Secara diam-diam, ia menentang sang Kaisar yang dengan otoritasnya menghapuskan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Romawi Kuno. Seperti kebanyakan tradisi kuno lainnya, perayaan untuk menghormati Dewa Lupercus itu diawali dengan upacara yang disebut dengan Lupercilia setiap 15 Februari. Upacara ini awalnya diadakan untuk mengusir serigala ganas yang sering muncul di sekitar kota Roma.
Salah satu persembahan mereka adalah mengadakan sebuah festival yang salah satu acaranya adalah tradisi bernama name drawing, terutama diperuntukkan bagi anak-anak muda yang masih lajang.
Festival diawali dengan menulis semua nama gadis di kota Roma pada kertas kecil dan dimasukkan ke dalam wadah kaca besar. Setelah itu, setiap lelaki lajang di Roma mengambil lembaran kertas tersebut secara acak. Nama gadis yang tertera di kertas pilihan mereka otomatis akan menjadi kekasih mereka.
Ketika Kaisar Claudius II memerintah, sang kaisar kesulitan mencari pemuda untuk dijadikan pasukan karena para lelaki di Roma lebih memilih tinggal dan berkumpul bersama orang-orang yang mereka cintai. Karena itu, sang kaisar kemudian melarang pemuda-pemuda Roma untuk
menikah atau bertunangan, dan menghapus tradisi name drawing itu.
Pastor Valentine, dengan prinsip cinta kasih yang dianutnya, secara diam-diam tetap menikahkan pasangan-pasangan muda yang ingin menikah. Baginya, kasih sayang antar-manusia harus dilindungi. Cinta harus dirayakan. Baginya, kebijakan Sang Kaisar melarang pernikahan adalah melawan manusia dan kemanusiaan. Apalagi kepentingan Kaisar adalah kepentingan perang yang penuh kebencian dan pertumpahan darah.
Ulahnya itulah yang kemudian menyeretnya ke altar eksekusi mati. Ia mati 14 Februari 269 M dengan meninggalkan sepucuk surat cinta kepada seorang anak sipir penjara. Untaian cinta pada surat itulah yang membuat orang belakangan menahbiskan tanggal matinya sebagai Hari
Kasih Sayang (Valentine's Day).
Belakangan valentine's day menjadi momentum yang mendunia. Hampir di seluruh negara, hari itu menjadi saat berbagi kasih dengan sesama dirayakan. Di Mesir atau sebagian negara Arab, misalnya, meski sebagian ulama melarangnya, masyarakat merayakan apa yang disebut
mereka sebagai 'id al-hubb dan syamm al-nasim itu.
Islam dan Cinta
Cerita asal muasal valentine's day ini menarik. Bukan hanya karena ia mengenalkan kita pada satu masa yang bagi kita sekarang ini hanya bisa dibayangkan layaknya dongeng. Bukan hanya karena cerita ini seheroik dan sedramatis Romeo and Juliet. Ia juga menarik karena justru kisah
itulah yang kemudian menjadi dasar dan amunisi penyikapan terhadap perayaan Valentine.
Sebagian kalangan Islam dengan tegas mengharamkan umatnya turut merayakan Hari Kasih Sayang itu, karena merayakannya berarti mengamini ajaran Romawi Kuno, sekaligus ajaran Kristen. Merayakannya berarti mengiyakan akidah lain di luar Islam.
Bagi mereka, valentine's day adalah simbol kekristenan. Dan simbol merepresentasikan substansi. Karena itu merayakannya berarti merayakan kekristenan. Di samping menganggap bahwa valentine's day adalah bid'ah yang tidak ada dasar legitimasinya dalam Islam, argumen pengharaman ini terutama mendasarkan pada hadis riwayat al-Tirmidzi: "Barangsiapa
meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." Bagi sebagian ulama lain, hadis larangan meniru atau tasyabbuh ini adalah hadis yang menjustifikasi larangan taqlid (meniru sesuatu tanpa tahu esensinya). Sangat tidak produktif jika kita memakai hadis ini untuk melarang segala hal yang datang dari luar. Padahal juga, Nabi menyuruh kita untuk "mencari ilmu sampai ke China", yang notabene bukan negara Islam. Bukankah dengan demikian Nabi menyuruh kita untuk "meniru" orang China?
Mereka lupa, Islam tidak lahir di ruang kosong. Islam tidak berawal dari titik nol. Di samping melahirkan orisinalitas dan otentisitasnya sendiri, Islam juga merebut simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya, lalu mengisinya dengan esensi Islam, untuk tidak mengatakan
"mengislamisasi" simbol-simbol itu.
Mereka lupa bahwa Islam merebut Ka'bah yang tadinya adalah simbol pemujaan berhala. Mereka lupa bahwa menara masjid berasal dari manarah (tempat menyalakan api), simbol pemujaan kaum Majusi. Mereka lupa bahwa sebelum Islam datang, puasa adalah tradisi kekristenan.
Mereka juga lupa bahwa Islam simbolik dan formalis seperti itulah yang justru membuah Muhammad Abduh dengan terpaksa harus berkata: "Saya menemukan Islam di Paris, meski tidak ada orang Islam di sana. Dan saya tidak menemukan Islam di Mesir, meski banyak orang Islam di sini."
Lebih jauh dari itu, mereka lupa bahwa prinsip cinta, kasih dan sayang (rahman dan rahim) yang menjadi semangat valentine's day, juga adalah prinsip Islam yang harus selalu diprioritaskan, ketimbang prinsip kebencian dan permusuhan.
Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam, cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral.
Islam memandang cinta kasih sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai sesamanya laksana dia mencintai dirinya sendiri (HR. Muslim).
Bahkan, "sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna buat kehidupan sesamanya", dan cinta sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (QS. al-Hasyr: 9).
Di mata Islam, mencinta dan dicinta itu adalah "risalah" suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Dalam konteks ini, tidak ada salahnya merayakan valentine's day.
Fakta bahwa valentine's day identik dengan hura-hura dan pergaulan bebas, itu adalah soal lain yang merupakan konstruksi sosial belakangan, yang bagi sebagian kalangan justru mengaburkan esensi sesungguhnya. Ia sama sekali tidak bisa menjadi alasan pengharaman.
Justru jika kita mampu menangkap semangat asali valentine's day, cinta kasih antar sesama, wajib bagi kita untuk menggunakan momentum ini menjadi bagian dari misi sosial Islam.
Rasanya, Islam akan lebih berharga jika semangat mencintai dan berbagi ditebarkan, sementara semangat membenci dan memusuhi dimusnahkan. Rasanya, kemajuan peradaban Islam justru terjadi ketika Islam menjadi korpus terbuka yang siap berkompromi dengan kebaruan. Rasanya, Islam akan mampu mewujudkan misi rahmatan li al-'alamin jika setiap umatnya menjadi bagian dari laskar cinta ala Ahmad Dhani: Wahai, jiwa-jiwa yang tenang/Berhati-hati lah dirimu/Kepada hati hati yang penuh dengan/Kebencian yang dalam
Karena, sesungguhnya iblis/ada dan bersemayam/Di hati yang penuh dengan benci/di hati yang penuh dengan prasangka.
Laskar Cinta/Sebarkanlah benih-benih cinta/Musnahkanlah virus-virus benci/Virus yang bisa rusakkan hati/Dan busukkan hati
Laskar Cinta/Ajarkanlah ilmu tentang cinta/Karena cinta adalahhakikat/Dan jalan yang terang bagi semua umat manusia
Jika kebencian meracunimu kepada/kaum umat yang lainnya/Maka sesungguhnya iblis/sudah berkuasa atas dirimu
Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi menyayangi/Manusia-manusia yang penuh benci/seperti kamu. -- Anick HT
Adalah seorang Valentine, pastor di zaman Kaisar Claudius II di Roma, abad III. Secara diam-diam, ia menentang sang Kaisar yang dengan otoritasnya menghapuskan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Romawi Kuno. Seperti kebanyakan tradisi kuno lainnya, perayaan untuk menghormati Dewa Lupercus itu diawali dengan upacara yang disebut dengan Lupercilia setiap 15 Februari. Upacara ini awalnya diadakan untuk mengusir serigala ganas yang sering muncul di sekitar kota Roma.
Salah satu persembahan mereka adalah mengadakan sebuah festival yang salah satu acaranya adalah tradisi bernama name drawing, terutama diperuntukkan bagi anak-anak muda yang masih lajang.
Festival diawali dengan menulis semua nama gadis di kota Roma pada kertas kecil dan dimasukkan ke dalam wadah kaca besar. Setelah itu, setiap lelaki lajang di Roma mengambil lembaran kertas tersebut secara acak. Nama gadis yang tertera di kertas pilihan mereka otomatis akan menjadi kekasih mereka.
Ketika Kaisar Claudius II memerintah, sang kaisar kesulitan mencari pemuda untuk dijadikan pasukan karena para lelaki di Roma lebih memilih tinggal dan berkumpul bersama orang-orang yang mereka cintai. Karena itu, sang kaisar kemudian melarang pemuda-pemuda Roma untuk
menikah atau bertunangan, dan menghapus tradisi name drawing itu.
Pastor Valentine, dengan prinsip cinta kasih yang dianutnya, secara diam-diam tetap menikahkan pasangan-pasangan muda yang ingin menikah. Baginya, kasih sayang antar-manusia harus dilindungi. Cinta harus dirayakan. Baginya, kebijakan Sang Kaisar melarang pernikahan adalah melawan manusia dan kemanusiaan. Apalagi kepentingan Kaisar adalah kepentingan perang yang penuh kebencian dan pertumpahan darah.
Ulahnya itulah yang kemudian menyeretnya ke altar eksekusi mati. Ia mati 14 Februari 269 M dengan meninggalkan sepucuk surat cinta kepada seorang anak sipir penjara. Untaian cinta pada surat itulah yang membuat orang belakangan menahbiskan tanggal matinya sebagai Hari
Kasih Sayang (Valentine's Day).
Belakangan valentine's day menjadi momentum yang mendunia. Hampir di seluruh negara, hari itu menjadi saat berbagi kasih dengan sesama dirayakan. Di Mesir atau sebagian negara Arab, misalnya, meski sebagian ulama melarangnya, masyarakat merayakan apa yang disebut
mereka sebagai 'id al-hubb dan syamm al-nasim itu.
Islam dan Cinta
Cerita asal muasal valentine's day ini menarik. Bukan hanya karena ia mengenalkan kita pada satu masa yang bagi kita sekarang ini hanya bisa dibayangkan layaknya dongeng. Bukan hanya karena cerita ini seheroik dan sedramatis Romeo and Juliet. Ia juga menarik karena justru kisah
itulah yang kemudian menjadi dasar dan amunisi penyikapan terhadap perayaan Valentine.
Sebagian kalangan Islam dengan tegas mengharamkan umatnya turut merayakan Hari Kasih Sayang itu, karena merayakannya berarti mengamini ajaran Romawi Kuno, sekaligus ajaran Kristen. Merayakannya berarti mengiyakan akidah lain di luar Islam.
Bagi mereka, valentine's day adalah simbol kekristenan. Dan simbol merepresentasikan substansi. Karena itu merayakannya berarti merayakan kekristenan. Di samping menganggap bahwa valentine's day adalah bid'ah yang tidak ada dasar legitimasinya dalam Islam, argumen pengharaman ini terutama mendasarkan pada hadis riwayat al-Tirmidzi: "Barangsiapa
meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." Bagi sebagian ulama lain, hadis larangan meniru atau tasyabbuh ini adalah hadis yang menjustifikasi larangan taqlid (meniru sesuatu tanpa tahu esensinya). Sangat tidak produktif jika kita memakai hadis ini untuk melarang segala hal yang datang dari luar. Padahal juga, Nabi menyuruh kita untuk "mencari ilmu sampai ke China", yang notabene bukan negara Islam. Bukankah dengan demikian Nabi menyuruh kita untuk "meniru" orang China?
Mereka lupa, Islam tidak lahir di ruang kosong. Islam tidak berawal dari titik nol. Di samping melahirkan orisinalitas dan otentisitasnya sendiri, Islam juga merebut simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya, lalu mengisinya dengan esensi Islam, untuk tidak mengatakan
"mengislamisasi" simbol-simbol itu.
Mereka lupa bahwa Islam merebut Ka'bah yang tadinya adalah simbol pemujaan berhala. Mereka lupa bahwa menara masjid berasal dari manarah (tempat menyalakan api), simbol pemujaan kaum Majusi. Mereka lupa bahwa sebelum Islam datang, puasa adalah tradisi kekristenan.
Mereka juga lupa bahwa Islam simbolik dan formalis seperti itulah yang justru membuah Muhammad Abduh dengan terpaksa harus berkata: "Saya menemukan Islam di Paris, meski tidak ada orang Islam di sana. Dan saya tidak menemukan Islam di Mesir, meski banyak orang Islam di sini."
Lebih jauh dari itu, mereka lupa bahwa prinsip cinta, kasih dan sayang (rahman dan rahim) yang menjadi semangat valentine's day, juga adalah prinsip Islam yang harus selalu diprioritaskan, ketimbang prinsip kebencian dan permusuhan.
Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam, cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral.
Islam memandang cinta kasih sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai sesamanya laksana dia mencintai dirinya sendiri (HR. Muslim).
Bahkan, "sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna buat kehidupan sesamanya", dan cinta sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (QS. al-Hasyr: 9).
Di mata Islam, mencinta dan dicinta itu adalah "risalah" suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Dalam konteks ini, tidak ada salahnya merayakan valentine's day.
Fakta bahwa valentine's day identik dengan hura-hura dan pergaulan bebas, itu adalah soal lain yang merupakan konstruksi sosial belakangan, yang bagi sebagian kalangan justru mengaburkan esensi sesungguhnya. Ia sama sekali tidak bisa menjadi alasan pengharaman.
Justru jika kita mampu menangkap semangat asali valentine's day, cinta kasih antar sesama, wajib bagi kita untuk menggunakan momentum ini menjadi bagian dari misi sosial Islam.
Rasanya, Islam akan lebih berharga jika semangat mencintai dan berbagi ditebarkan, sementara semangat membenci dan memusuhi dimusnahkan. Rasanya, kemajuan peradaban Islam justru terjadi ketika Islam menjadi korpus terbuka yang siap berkompromi dengan kebaruan. Rasanya, Islam akan mampu mewujudkan misi rahmatan li al-'alamin jika setiap umatnya menjadi bagian dari laskar cinta ala Ahmad Dhani: Wahai, jiwa-jiwa yang tenang/Berhati-hati lah dirimu/Kepada hati hati yang penuh dengan/Kebencian yang dalam
Karena, sesungguhnya iblis/ada dan bersemayam/Di hati yang penuh dengan benci/di hati yang penuh dengan prasangka.
Laskar Cinta/Sebarkanlah benih-benih cinta/Musnahkanlah virus-virus benci/Virus yang bisa rusakkan hati/Dan busukkan hati
Laskar Cinta/Ajarkanlah ilmu tentang cinta/Karena cinta adalahhakikat/Dan jalan yang terang bagi semua umat manusia
Jika kebencian meracunimu kepada/kaum umat yang lainnya/Maka sesungguhnya iblis/sudah berkuasa atas dirimu
Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi menyayangi/Manusia-manusia yang penuh benci/seperti kamu. -- Anick HT
14 February 2006
Hari Kekasih
Hari ini makhluk bernama manusia akan berpasangan dengan teman masing merayakan perayaan Hari Kekasih. Di tangan ada sekuntum bunga, di bawa merentasi khalayak untuk diberikan kepada teman wanitanya.
Teman wanita pula setia menunggu sang kekasih di kerusi itu. Sambil bibir menguntumkan senyuman meleret. Entah apa yang disukakan. Sedang teman lelaki menuju ke destinasi yang dijanjikan sambil bersiul. Entah lagu apa yang disiulkan.
14 Februari pada setiap tahun, manusia telah sepakat untuk merayakannya. Tetapi masih ada yang tak setuju, tak mahu ikut merayakannya. Untuk apa? Kata mereka. Dan kata mereka lagi ada falsafah dan tujuan di sebalik perayaan itu dirayakan. Ada kaitan dengan wali St. Valentine dari agama Kristian, tarikh pembakaran kapal umat Islam, dan Andalusia di rampas oleh orang Kristian.
Itu kata mereka. Dan maaf aku sendiri tdak mengkaji lebih lanjut tentang perkara-perkara ini. Aku tidak mengkaji siapakah dia wali St. Valentine atau tarikh Andalusia di rampas rejimnya oleh rejim Kristian.
Walaupun mereka wujud atau benar akan tarikh-tarikh itu, makna cinta dan kekasih kita tidak patut sempitkan. Kita sebagai seorang penyembah tuhan -- Islam, berhak cinta akan Dia. Dia merupakan cinta agung kita dan tarikh ini telah disepakati sebagai merayakan sang kekasih, jadi persembahkanlah cinta kita dengan sedalam-dalamnya.
Bunga ros digantikan dengan ibadah tanda cinta kita kepadaNya. Cumbu asmara digantikan dengan ayat puji-pujian kepadaNya.
Hari kekasih ini bagai medan kita untuk memulakan kehidupan baru sebagai umat manusia yang akan sentiasa patuh kepadaNya. Harapnya kita akan menjadi seperti Rabiatun Adawiyah, yang mencintai Allah sepenuh hatinya, tanpa mengharapkan balasan surga. Bagaikan lagu Chrisye dan Ahmad Dhani, Jika Surga dan Neraka Tiada.
Kau sebagai penganut agama apa sekali pun -- bagaikan kau penganut Buddha, Hindu, Kristian, Judaisma atau Islam -- punya tanggung jawab dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Dan tanggungjawab kau yang paling utama ialah kasih kepada tuhan. Mulakan berkasih dengan tuhan pada hari Valentine, jika kau mahu.
Namun hari kekasih ini telah dicemari dengan nilai-nilai komersial yang tinggi -- kad ucapan berayatkan kata-kata manis memadu kasih, bunga ros kemerahan atau keputihan, pelbagai hadiah menambat para hati yang melihatnya, dan sms dedikasi atau ucapan yang tidak terperi. Semuanya bagai mahu memanipulasi atau mengeksploitasi. Memperalatkan hari yang baik ini untuk kepentingan diri sendiri.
Akhirnya yang untung, mereka yang melambakkan barangan mereka di tengah-tengah pasaran. Pembeli hanya mendapat keuntungan yang sedikit -- merayakan dan meraikan kekasih masing-masing.
Maka sang teman wanita akan bergembira dengan pemberian bunga ros yang ikhlas dari teman lelaki. Mereka bercumbu-cumbuan hingga comot pipi mereka dan di dekat bibir dek gincu atau lipstik yang tebal. Selepas itu mereka gembira berpegangan tangan -- erat genggaman tangan dua orang itu -- menuju menghadap tuhan yang esa.
Berkasihlah engkau wahai pasangan kekasih! Raikan cintamu! Raikan cintamu pada tuhan yan berhk dicintai!
Teman wanita pula setia menunggu sang kekasih di kerusi itu. Sambil bibir menguntumkan senyuman meleret. Entah apa yang disukakan. Sedang teman lelaki menuju ke destinasi yang dijanjikan sambil bersiul. Entah lagu apa yang disiulkan.
14 Februari pada setiap tahun, manusia telah sepakat untuk merayakannya. Tetapi masih ada yang tak setuju, tak mahu ikut merayakannya. Untuk apa? Kata mereka. Dan kata mereka lagi ada falsafah dan tujuan di sebalik perayaan itu dirayakan. Ada kaitan dengan wali St. Valentine dari agama Kristian, tarikh pembakaran kapal umat Islam, dan Andalusia di rampas oleh orang Kristian.
Itu kata mereka. Dan maaf aku sendiri tdak mengkaji lebih lanjut tentang perkara-perkara ini. Aku tidak mengkaji siapakah dia wali St. Valentine atau tarikh Andalusia di rampas rejimnya oleh rejim Kristian.
Walaupun mereka wujud atau benar akan tarikh-tarikh itu, makna cinta dan kekasih kita tidak patut sempitkan. Kita sebagai seorang penyembah tuhan -- Islam, berhak cinta akan Dia. Dia merupakan cinta agung kita dan tarikh ini telah disepakati sebagai merayakan sang kekasih, jadi persembahkanlah cinta kita dengan sedalam-dalamnya.
Bunga ros digantikan dengan ibadah tanda cinta kita kepadaNya. Cumbu asmara digantikan dengan ayat puji-pujian kepadaNya.
Hari kekasih ini bagai medan kita untuk memulakan kehidupan baru sebagai umat manusia yang akan sentiasa patuh kepadaNya. Harapnya kita akan menjadi seperti Rabiatun Adawiyah, yang mencintai Allah sepenuh hatinya, tanpa mengharapkan balasan surga. Bagaikan lagu Chrisye dan Ahmad Dhani, Jika Surga dan Neraka Tiada.
Kau sebagai penganut agama apa sekali pun -- bagaikan kau penganut Buddha, Hindu, Kristian, Judaisma atau Islam -- punya tanggung jawab dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Dan tanggungjawab kau yang paling utama ialah kasih kepada tuhan. Mulakan berkasih dengan tuhan pada hari Valentine, jika kau mahu.
Namun hari kekasih ini telah dicemari dengan nilai-nilai komersial yang tinggi -- kad ucapan berayatkan kata-kata manis memadu kasih, bunga ros kemerahan atau keputihan, pelbagai hadiah menambat para hati yang melihatnya, dan sms dedikasi atau ucapan yang tidak terperi. Semuanya bagai mahu memanipulasi atau mengeksploitasi. Memperalatkan hari yang baik ini untuk kepentingan diri sendiri.
Akhirnya yang untung, mereka yang melambakkan barangan mereka di tengah-tengah pasaran. Pembeli hanya mendapat keuntungan yang sedikit -- merayakan dan meraikan kekasih masing-masing.
Maka sang teman wanita akan bergembira dengan pemberian bunga ros yang ikhlas dari teman lelaki. Mereka bercumbu-cumbuan hingga comot pipi mereka dan di dekat bibir dek gincu atau lipstik yang tebal. Selepas itu mereka gembira berpegangan tangan -- erat genggaman tangan dua orang itu -- menuju menghadap tuhan yang esa.
Berkasihlah engkau wahai pasangan kekasih! Raikan cintamu! Raikan cintamu pada tuhan yan berhk dicintai!
Subscribe to:
Posts (Atom)